Persiapan jiwa dan raga menghadapi pernikahan

5 Responses to “Nikah”

  1. dwiso Says:

    untuk teman-temanku yg akan akan menikah…….

    Benarkah menikah didasari oleh kecocokan?

    Kalau dua-duanya doyan musik, berarti ada gejala bisa langgeng..
    Kalau sama-sama suka sop buntut berarti masa depan cerah…(is that simple?……..) itu semua bukan ukuran utk
    menikah atau mempertahankan pernikahan.
    Tapi liat analogi-analogi berikut :

    Bilamana sepasang sandal yang
    hanya punya aspek kiri dan
    kanan, menikah adalah persatuan dua
    manusia, pria dan wanita. Dari
    anatomi saja sudah tidak sebangun, apalagi
    urusan jiwa dan hatinya.

    Kecocokan, minat dan latar belakang
    keluarga bukan jaminan
    segalanya akan lancar.. Lalu apa?

    MENIKAH adalah proses pendewasaan. Dan
    untuk memasukinya diperlukan pelaku yang
    kuat dan berani. Berani menghadapi masalah
    yang akan terjadi dan punya kekuatan untuk
    menemukan jalan keluarnya.

    Kedengarannya sih indah, tapi kenyataannya?
    Harus ada ‘Komunikasi Dua Arah’, ‘Ada kerelaan
    mendengar kritik’, ‘Ada keikhlasan meminta
    maaf’, ‘Ada ketulusan melupakan kesalahan,dan
    keberanian untuk mengemukakan pendapat
    secara JUJUR’.

    Sekali lagi
    MENIKAH bukanlah upacara yang
    diramaikan gending cinta, bukan rancangan gaun
    pengantin ala cinderella, apalagi rangkaian
    mobil undangan yang memacetkan jalan.

    MENIKAH adalah berani memutuskan untuk
    berlabuh,ketika ribuan kapal pesiar yang
    gemerlap memanggil-manggil

    MENIKAH adalah proses penggabungan dua
    orang berkepala batu dalam satu ruangan dimana
    kemesraan, ciuman, dan pelukan yang
    berkepanjangan hanyalah bunga.

    Masalahnya bukanlah menikah dengan anak
    siapa, yang hartanya berapa, bukanlah rangkaian
    bunga mawar yang jumlahnya ratusan, bukanlah
    perencanaan berbulan-bulan yang akhirnya
    membuat keluarga saling tersinggung, apalagi
    kegemaran minum kopi yang sama…

    MENIKAH adalah proses pengenalan diri
    sendiri maupun pasangan anda. Tanpa
    mengenali diri sendiri, bagaimana anda bisa
    memahami orang lain…?? Tanpa bisa
    memperhatikan diri sendiri, bagaimana anda bisa
    memperhatikan pasangan hidup…??

    MENIKAH sangat membutuhkan keberanian
    tingkat tinggi,toleransi sedalam samudra,
    serta jiwa besar untuk bisa saling ‘MENERIMA’
    dan ‘MEMAAFKAN’, yg bukan sekedar
    MENERIMA kritikan atau MEMAAFKAN
    kesalahan semata akan tetapi MENERIMA dan
    MEMAAFKAN dlm arti yg luas dan mendalam.

    1. Meda Says:

      betul banget atas apa yang telah di paparka..menikah bukan hanya saat dimana pesta diadakan dan di deklamasikan “sah”…tpi menikah yang sebenarnya,adalah saat dimana setelah kita mengikat janji sehidup semati…persatuan antara dua manusia untuk berbagi,berbagi ego,pemikiran,salah,benar…tidak ada kata “kamu” dan “aku”…yang ada hanya kata “kita”

  2. else Says:

    ada info bagus nich untuk persiapan nikah,
    segala kemungkinan baik dan buruknya suatu proses persiapan nikah harus dihadapi dengan keridhoan pribadi..

    http://spinkage.multiply.com/tag/persiapan%20nikah

  3. eko Says:

    #TIGA ENAM UNTUK SP#

    Baru-baru ini sedang marak ditayangkan di media kasus tentang pemukulan wasit karate dari Indonesia oleh polisi Malaysia. Syukurlah yang seperti itu tak terjadi kemarin (30/8). Wasit kondang dari Sekolah Peradaban Cilegon pulang dari Mutiara Bunda dengan selamat.

    Tiga hari sebelum hari Jum’at seseorang menelpon dari balik telepon. Pak Wawan menerima telepon itu dengan penuh tanda tanya, siapakah gerangan? Ternyata dari Mutiara Bunda. Sebuah sekolah alternative setingkat SD yang berlokasi di kompleks perumaha Taman Cilegon Indah.

    Tak beberapa lama pak Wawan menyampaikan kepada para fasilitator bahwa SP ditantang main futsal dengan Mutiara Bunda. Seakan baling-baling beroleh angin kencang, dia akan segera bergerak memutar. Begitu juga para fasilitator yang sore itu sedang bercakap-cakap diseberang kelas Abu Bakar, mereka menjadi begitu bersemangat.

    Hari yang dinanti telah tiba. Jum’at sore (30/8) ketika jam berdetak pukul 15.30, seluruh pasukan SP bersiap menghadiri pertempuran yang mempertaruhkan harga diri dan kehormatan itu. Mereka berarak menuju lokasi dengan naik sepeda motor. Hamparan pasir lapangan telah tergelar. Para guru Mutiara Bunda telah siap dengan segala perlengkapan yang ada. Mereka lebih banyak, juga supporter ala ibu-ibu guru sekolah Mutiara Bunda, namun itu tak menyurutkan semangat para fasilitator untuk terus maju memberikan perlawanan terbaiknya.

    Pritt…! Pertandingan dimulai. Babak pertama akan berlangsung selama 30 menit begitu wasit pertandingan yang tak lain adalah pak Wawan memberikan pengarahan. Masing-masing kubu telah bersiap pada posisinya. Pada garis depan ada pak Ayat, pak Ade, pak Rizky. Pada garis belakang ada pak Lukman, pak Haepi dan pak Eko. Adapun sang penjaga gawang pak Agus dipercaya penuh sekalipun dirinya tak sedikitpun memiliki bakat menjadi seorang keeper sekelas Markus Horison.

    Babak pertama usai. Kedudukan sementara 2-0. Anda pasti tak mengira bukan siapa angka dua itu berpihak. Dengan menyesal kusampaikan bahwa kubu Mutiara Bunda diatas angin untuk babak pertama ini. Tapi tak apa, memang biasa demikian, seorang jagoan biasanya kalah pada awalnya untuk membuat menarik pertandingan.

    Babak kedua dimulai. Pak Eko berganti posisi dengan pak Furkon. Beliau harus meninggalkan gelanggang pertandingan, menyelesaikan keperluan pribadinya. Dan pertandingan semakin seru saja. Pasir-pasir berhambur ketika kaki menderu, seolah mereka kegirangan mendapat gesekan sepatu para jagoan itu berlaga. Namun pada babak kedua ini mereka tak tampak gembira. Sore mulai larut dan pasir-pasir itupun tak tampak lagi seceria dan sesemangat pada babak awal. Nampaknya mereka telah lelah menyemangati tim Sekolah Peradaban yang makin terpuruk saja. Pertandingan kedua usai, skor akhir 3-6. Kemenangan ada di pihak tuan rumah.

    Mereka berjabat tangan. Biarlah kali ini para jagoan itu kalah. Tak mengapa juga sedikit memberi kenangan indah bagi para tuan rumah. Tentu akan begitu memilukan jika tuan rumah, penguasa tiap jengkal tanah Mutiara Bunda itu dipermalukan dikandang sendiri juga didepan ibu-ibu supporter mereka. Kasihan bukan. He.. he..

    Sesampai di Sekolah para fasilitaor SP mengevaluasi permainan mereka dari balik rekaman handycam yang sedang diputar ulang. “Seharusnya jangan bergerombol”, ujar salah seorang. “Jangan banyak gocek”, yang lain memberi tambahan. “Tapi ga papa. Sekolah mana lagi yang mo kita lawan?”.

    Pak Haepi masih saja duduk terkulai lemas. Ketika berdiri mengambil air wudhu jalannya mendadak seperti kakek-kakek. Bukan karena dipukuli di negeri asing seperti wasit Indonesia yang dianiaya di negeri Jiran. Tapi karena terkilir, jatuh berderai manja diatas pasir jelita. Alih-alih mempraktikan gaya menendang terbalik model Tsubasa. Pak Haepi mendarat dengan tak sempurna. Pak Haepi, malang nian dirimu itu. Coba kau punya istri, tentu hidupmu tak sesusah ini pak. Di rumah menanti seorang bidadari mengulum-ngulum senyum menyiapkan air hangat untuk mandi, memijat penuh sayang kakimu yang terkilir. He… kapan kawin, pak?


  4. […] Untuk Teman-Temanku yg Akan Menikah (copied from:https://dwiso.wordpress.com/nikah/) Posted by: mahadiputra in Uncategorized […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s