Haruskah Bekerja Sesuai dengan Bidang Ilmu?

SEBAGIAN masyarakat cenderung menganggap, pekerjaan yang dilakoni seseorang idealnya sesuai dengan latar belakang keilmuannya. Lebih afdol, begitu kata mereka. Pendapat ini —meski tidak salah— agak tradisional, kalau tidak bisa dikatakan ketinggalan zaman. Bekerja pada bidang lain yang berbeda dari disiplin ilmu yang dituntut di bangku sekolah atau kuliah, bahkan memiliki beberapa manfaat.

Pertama, pengalaman dan wawasan seseorang akan menjadi lebih luas, hingga dapat memandang suatu masalah tidak hanya dari satu sisi. Ambillah contoh, profesi diplomat di Departemen Luar Negeri yang “idealnya” diisi oleh sarjana hubungan internasional.

Dengan berkarir pada bidang itu, seorang sarjana ekonomi yang gencar mencetuskan kesejahteraan lewat gagasan ekonomi, atau seorang sarjana sastra yang sangat yakin peran seni dalam meningkatkan posisi tawar suatu negara, akan “dipaksa” untuk menelaah juga aspek politis dan historis dunia.

Untuk mengisi lahan kerja yang berlainan dengan bidang ilmu yang dimilikinya, paling tidak akan mencegah seseorang untuk menjadi “katak dalam tempurung”.

Kedua, seiring dengan bertambahnya pengetahuan baru, seorang karyawan yang berjiwa wirausaha akan menjadi lebih jeli melihat peluang. Sebelum bekerja sebagai konsultan keuangan pada sebuah perusahaan asuransi, seorang lulusan jurusan farmasi mungkin tidak menyadari bahwa selain untuk tujuan konsumsi, maka
sebagian masyarakat menggunakan kekayaannya untuk investasi.

Peluang tersebut akan ia manfaatkan untuk merangkap menjadi pialang saham, misalnya. Akibatnya, tak cuma ilmunya yang bertambah, tapi juga meraup keuntungan
ganda.

Ketiga, akan timbul kompetisi yang (semoga) sehat di antara para pelamar kerja. Ketika seorang sarjana teknik pertanian misalnya diterima untuk menjadi training officer di sebuah perusahaan pakaian jadi, kemungkinan besar kompetensi yang dimiliki di bidang pelatihan lebih tinggi daripada pesaing lainnya yang datang dari bidang manajemen, psikologi, atau komunikasi misalnya.

Perusahaan yang cerdas menyeleksi calon karyawan berdasarkan pengalaman dan keterampilan, bukan latar belakang pendidikan semata. Ini berarti, seorang sarjana teknik informatika yang ingin bekerja sebagai konsultan IT tak cukup hanya mengandalkan gelar, tapi harus benar-benar menguasai bidang ilmunya agar tidak dikalahkan oleh sarjana teknik kimia yang kebetulan lebih luwes menguasai berbagai bahasa pemrograman.

Di samping itu, beberapa profesi justru membutuhkan sarjana dari berbagai disiplin ilmu untuk dididik sesuai kebutuhan profesi itu. Contoh paling mudah pekerjaan sebagai reporter atau jurnalis media massa. Dengan beragamnya rubrik, akan relatif lebih efisien untuk melatih sarjana desain interior tentang bagaimana membuat feature, daripada melatih sarjana jurnalistik tentang seluk-beluk gaya penataan ruangan.

Pendidikan dan pelatihan

Namun begitu, untuk menggeluti bidang yang berbeda dengan apa yang dipelajari semasa di bangku kuliah, memang bukan hal yang mudah. Bahkan, bisa dibayangkan banyaknya hal baru yang mesti dipahami seorang lulusan editing yang baru direkrut menjadi sales representative oleh sebuah perusahaan minuman kesehatan.

Di sinilah sebetulnya peran pendidikan dan pelatihan bagi pegawai baru sangat dibutuhkan. Baik berupa pelatihan secara intensif maupun orientasi singkat tentang perusahaan.

Mereka yang mempunyai prinsip, pekerjaan harus sesuai dengan latar belakang keilmuan yang dimiliki, mungkin akan merasa keberatan jika mereka harus mempelajari sesuatu yang baru mulai dari awal. Padahal, tidak ada yang bisa memprediksi masa depan.

Namun seiring program restrukturisasi atau rasionalisasi menyebabkan jumlah pegawai di sebuah perusahaan penerbangan misalnya akan menjadi semakin berkurang. Seorang sarjana teknik fisika yang pada awalnya bekerja sesuai bidangnya terpaksa harus mengenal metode pembukuan karena ia dialihtugaskan menjadi pengawas keuangan.

Memaksakan agar pekerjaan kita sesuai latar belakang pendidikan bukan hanya hal yang sulit, tapi dapat mematikan kreativitas. Dalam kewirausahaan, contohnya. Tak semua yang kita pelajari di sekolah> atau perguruan tinggi harus bisa “dijual”. Jika
setiap orang mutlak mesti berbisnis sesuai bidang ilmunya, alangkah sesaknya ruang gerak para sarjana untuk menjadi pengusaha karena lahan usaha dibatasi sesuai bidang ilmu mereka.

Ketika ingin berwirausaha, seorang pensiunan jenderal tidak lantas harus berjualan senjata atau membuka kursus bela diri, bukan? Ilmu yang telah dipelajari memang idealnya diamalkan, meski tidak selalu dalam bentuk profesi.

Mengajar bisa menjadi salah satu alternatif agar ilmu itu tidak sekadar menguap. Meski teori yang kita pelajari hanya tersimpan rapi di lemari, toh tidak ada yang sia-sia dari bertambahnya pengetahuan dan mungkin pengalaman hidup kita.

Kini sudah bukan saatnya lagi membuat kotak-kotak yang tak perlu hanya mempersempit pandangan. Menjadi seorang profesional tak harus melulu pada satu bidang ilmu. Selain ahli obat-obatan, Ibnu Sina (Avicenna) juga merenungi filsafat, kimia, dan matematika. Carl Iver Hovland tidak hanya menyentuh psikologi, tapi berhasil menegakkan salah satu pilar besar ilmu komunikasi.

Merambah dunia yang berbeda dengan bidang ilmu, boleh jadi malah menguntungkan. Tengoklah Mooryati Soedibyo —pengusaha jamu dan kosmetika tradisional— yang ternyata alumni jurusan Bahasa Inggris. Atau Cyrillia Arymbi, seorang asisten apoteker yang kini sukses dengan Lembaga Pendidikan dan Latihan Ariyanti.

Kalau Theresia Juliaty bekerja sebagai sekretaris sesuai latar belakang pendidikannya, Kota Bandung mungkin akan kehilangan “Prima Rasa”, salah satu toko kue yang terkenal dengan browniesnya. Kalau seorang Michelle Yeoh hanya berprofesi sebagai pengacara, Malaysia mungkin tak dapat membanggakannya sebagai “James Bond Lady”.

Dan kalau 25 sarjana arsitektur penggagas bisnis kaus “Dagadu” memilih untuk mendesain bangunan, Yogya mungkin akan kekurangan salah satu daya tariknya.***

Oleh AVIANTI YULIANITA F.

Penulis, mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad.