Persiapan jiwa dan raga menghadapi pernikahan
December 2009 M T W T F S S « Oct 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 Blogroll
Archives
Categories
-
Recent Posts
-
Recent Comments
splendid on Reset printer dan cartridge HP… icha on Cara aktivasi gprs telkom… wahyu di ponorogo on Cara aktivasi gprs telkom… Joen hao on Cara aktivasi gprs telkom… ada deh on Operator warnet amatir kolom
-
Blog Stats
- 26,003 hits
Blog at WordPress.com. — Theme: Connections by www.vanillamist.com
May 23, 2007 at 4:42 pm
untuk teman-temanku yg akan akan menikah…….
Benarkah menikah didasari oleh kecocokan?
Kalau dua-duanya doyan musik, berarti ada gejala bisa langgeng..
Kalau sama-sama suka sop buntut berarti masa depan cerah…(is that simple?……..) itu semua bukan ukuran utk
menikah atau mempertahankan pernikahan.
Tapi liat analogi-analogi berikut :
Bilamana sepasang sandal yang
hanya punya aspek kiri dan
kanan, menikah adalah persatuan dua
manusia, pria dan wanita. Dari
anatomi saja sudah tidak sebangun, apalagi
urusan jiwa dan hatinya.
Kecocokan, minat dan latar belakang
keluarga bukan jaminan
segalanya akan lancar.. Lalu apa?
MENIKAH adalah proses pendewasaan. Dan
untuk memasukinya diperlukan pelaku yang
kuat dan berani. Berani menghadapi masalah
yang akan terjadi dan punya kekuatan untuk
menemukan jalan keluarnya.
Kedengarannya sih indah, tapi kenyataannya?
Harus ada ‘Komunikasi Dua Arah’, ‘Ada kerelaan
mendengar kritik’, ‘Ada keikhlasan meminta
maaf’, ‘Ada ketulusan melupakan kesalahan,dan
keberanian untuk mengemukakan pendapat
secara JUJUR’.
Sekali lagi
MENIKAH bukanlah upacara yang
diramaikan gending cinta, bukan rancangan gaun
pengantin ala cinderella, apalagi rangkaian
mobil undangan yang memacetkan jalan.
MENIKAH adalah berani memutuskan untuk
berlabuh,ketika ribuan kapal pesiar yang
gemerlap memanggil-manggil
MENIKAH adalah proses penggabungan dua
orang berkepala batu dalam satu ruangan dimana
kemesraan, ciuman, dan pelukan yang
berkepanjangan hanyalah bunga.
Masalahnya bukanlah menikah dengan anak
siapa, yang hartanya berapa, bukanlah rangkaian
bunga mawar yang jumlahnya ratusan, bukanlah
perencanaan berbulan-bulan yang akhirnya
membuat keluarga saling tersinggung, apalagi
kegemaran minum kopi yang sama…
MENIKAH adalah proses pengenalan diri
sendiri maupun pasangan anda. Tanpa
mengenali diri sendiri, bagaimana anda bisa
memahami orang lain…?? Tanpa bisa
memperhatikan diri sendiri, bagaimana anda bisa
memperhatikan pasangan hidup…??
MENIKAH sangat membutuhkan keberanian
tingkat tinggi,toleransi sedalam samudra,
serta jiwa besar untuk bisa saling ‘MENERIMA’
dan ‘MEMAAFKAN’, yg bukan sekedar
MENERIMA kritikan atau MEMAAFKAN
kesalahan semata akan tetapi MENERIMA dan
MEMAAFKAN dlm arti yg luas dan mendalam.
May 23, 2007 at 4:48 pm
ada info bagus nich untuk persiapan nikah,
segala kemungkinan baik dan buruknya suatu proses persiapan nikah harus dihadapi dengan keridhoan pribadi..
http://spinkage.multiply.com/tag/persiapan%20nikah
September 2, 2007 at 3:47 am
#TIGA ENAM UNTUK SP#
Baru-baru ini sedang marak ditayangkan di media kasus tentang pemukulan wasit karate dari Indonesia oleh polisi Malaysia. Syukurlah yang seperti itu tak terjadi kemarin (30/8). Wasit kondang dari Sekolah Peradaban Cilegon pulang dari Mutiara Bunda dengan selamat.
Tiga hari sebelum hari Jum’at seseorang menelpon dari balik telepon. Pak Wawan menerima telepon itu dengan penuh tanda tanya, siapakah gerangan? Ternyata dari Mutiara Bunda. Sebuah sekolah alternative setingkat SD yang berlokasi di kompleks perumaha Taman Cilegon Indah.
Tak beberapa lama pak Wawan menyampaikan kepada para fasilitator bahwa SP ditantang main futsal dengan Mutiara Bunda. Seakan baling-baling beroleh angin kencang, dia akan segera bergerak memutar. Begitu juga para fasilitator yang sore itu sedang bercakap-cakap diseberang kelas Abu Bakar, mereka menjadi begitu bersemangat.
Hari yang dinanti telah tiba. Jum’at sore (30/8) ketika jam berdetak pukul 15.30, seluruh pasukan SP bersiap menghadiri pertempuran yang mempertaruhkan harga diri dan kehormatan itu. Mereka berarak menuju lokasi dengan naik sepeda motor. Hamparan pasir lapangan telah tergelar. Para guru Mutiara Bunda telah siap dengan segala perlengkapan yang ada. Mereka lebih banyak, juga supporter ala ibu-ibu guru sekolah Mutiara Bunda, namun itu tak menyurutkan semangat para fasilitator untuk terus maju memberikan perlawanan terbaiknya.
Pritt…! Pertandingan dimulai. Babak pertama akan berlangsung selama 30 menit begitu wasit pertandingan yang tak lain adalah pak Wawan memberikan pengarahan. Masing-masing kubu telah bersiap pada posisinya. Pada garis depan ada pak Ayat, pak Ade, pak Rizky. Pada garis belakang ada pak Lukman, pak Haepi dan pak Eko. Adapun sang penjaga gawang pak Agus dipercaya penuh sekalipun dirinya tak sedikitpun memiliki bakat menjadi seorang keeper sekelas Markus Horison.
Babak pertama usai. Kedudukan sementara 2-0. Anda pasti tak mengira bukan siapa angka dua itu berpihak. Dengan menyesal kusampaikan bahwa kubu Mutiara Bunda diatas angin untuk babak pertama ini. Tapi tak apa, memang biasa demikian, seorang jagoan biasanya kalah pada awalnya untuk membuat menarik pertandingan.
Babak kedua dimulai. Pak Eko berganti posisi dengan pak Furkon. Beliau harus meninggalkan gelanggang pertandingan, menyelesaikan keperluan pribadinya. Dan pertandingan semakin seru saja. Pasir-pasir berhambur ketika kaki menderu, seolah mereka kegirangan mendapat gesekan sepatu para jagoan itu berlaga. Namun pada babak kedua ini mereka tak tampak gembira. Sore mulai larut dan pasir-pasir itupun tak tampak lagi seceria dan sesemangat pada babak awal. Nampaknya mereka telah lelah menyemangati tim Sekolah Peradaban yang makin terpuruk saja. Pertandingan kedua usai, skor akhir 3-6. Kemenangan ada di pihak tuan rumah.
Mereka berjabat tangan. Biarlah kali ini para jagoan itu kalah. Tak mengapa juga sedikit memberi kenangan indah bagi para tuan rumah. Tentu akan begitu memilukan jika tuan rumah, penguasa tiap jengkal tanah Mutiara Bunda itu dipermalukan dikandang sendiri juga didepan ibu-ibu supporter mereka. Kasihan bukan. He.. he..
Sesampai di Sekolah para fasilitaor SP mengevaluasi permainan mereka dari balik rekaman handycam yang sedang diputar ulang. “Seharusnya jangan bergerombol”, ujar salah seorang. “Jangan banyak gocek”, yang lain memberi tambahan. “Tapi ga papa. Sekolah mana lagi yang mo kita lawan?”.
Pak Haepi masih saja duduk terkulai lemas. Ketika berdiri mengambil air wudhu jalannya mendadak seperti kakek-kakek. Bukan karena dipukuli di negeri asing seperti wasit Indonesia yang dianiaya di negeri Jiran. Tapi karena terkilir, jatuh berderai manja diatas pasir jelita. Alih-alih mempraktikan gaya menendang terbalik model Tsubasa. Pak Haepi mendarat dengan tak sempurna. Pak Haepi, malang nian dirimu itu. Coba kau punya istri, tentu hidupmu tak sesusah ini pak. Di rumah menanti seorang bidadari mengulum-ngulum senyum menyiapkan air hangat untuk mandi, memijat penuh sayang kakimu yang terkilir. He… kapan kawin, pak?
October 28, 2008 at 9:14 am
[...] Untuk Teman-Temanku yg Akan Menikah (copied from:http://dwiso.wordpress.com/nikah/) Posted by: mahadiputra in Uncategorized [...]